Tuesday, January 27, 2009

Anak Dan Seekor Kuda

Betapa sering saya melihat orang menatap tanpa melihat, menyimak tanpa mendengar, berbicara tanpa makna, menyentuh tanpa perasaan, bergerak tanpa kesadaran. merekalah yang mengilhami saya menjadi komunikator terbaik.
—Dr. Ibrahim Elfiky

Hari telah larut ketika Michael pulang ke rumah. Tapi dia tidak sendiri. la bersama seekor kuda yang ia temukan di jalan. Sesampainya di rumah, ia memohon ayahnya mengizinkannya merawat dan memiliki kuda tersebut. Ayahnya memperbolehkannya merawat kuda itu semalam saja karena menurutnya si pemilik pasti khawatir dan mencari-cari kudanya yang hilang. "Besok pagi," ayahnya berkata, "Ayah akan katakan apa yang harus kau lakukan." Michael terjaga semalaman di dekat kuda itu. Tak lama ia tertidur, dan matahari pun terbit. Suara ringkikan kuda membangunkannya. Ayahnya datang dan berkata, "Kau harus mengembalikan kuda itu ke pemiliknya." Michael menyela, "Tapi ayah, aku tak tahu di mana ia tinggal. Aku tak tahu ke mana aku harus mengembalikannya." Tersenyum, setelah menatap anaknya sebentar, ayah Michael berkata, "Michael, berjalanlah di sisi kuda itu. Biarkan dia tunjukkan jalan untukmu."

Ketika Michael sedang berpakaian, ia masih tak yakin akan apa yang dikatakan ayahnya. Tetapi ia tetap mengikuti nasehat ayahnya dan berjalan di sisi hewan tersebut. Anak laki-laki itu keheranan melihat kuda itu belok ke kiri, kemudian ke kanan. Dengan mantap, Michael mengikutinya. Tak lama kemudian, Michael dengan wajah berseri-seri dan kuda itu sampai di sebuah desa. Ketika penduduk desa melihat kuda tersebut, mereka berlari ke arahnya. Mereka sangat berterimakasih karena Michael mengembali-kan kuda mereka. Bahkan mereka memberinya hadiah. Sesampainya di rumah, ayahnya bertanya apakah Michael telah mengembalikan kuda tersebut.

Anak itu mengangguk seraya berkata, "Aku melakukan perintah ayah. Kuda itu menemukan sendiri jalan pulang." Lalu ia melanjutkan, "Ada lagi yang ingin aku katakan, ayah. Kemarin, ketika aku menemukan kuda itu, aku sangat senang. Aku bahkan berharap ayah mengizinkanku memeliharanya. Tetapi, sekarang aku merasa lebih berbahagia karena aku bisa menolong orang-orang desa menemukan kembali kuda mereka. Ayah, engkau pasti memintaku mengembalikan kuda tersebut karena satu alasan." Sambil tersenyum, ayahnya menjawab, "Michael, selalu ada kebahagiaan ketika kita menolong dan memberi. Ketika kau menolong penduduk desa menemukan kuda mereka, kau merasa senang, dan itulah pelajaranku yang pertama untukmu. Pelajaran yang kedua adalah dengan berjalan beriringan disisi kuda, kuda itu bisa menemukan jalannya sendiri untuk pulang tanpa pengaruh apapun darimu. Anakku, engkau harus menerima orang lain apa adanya. Jangan pernah mencoba mengubah mereka, lebih baik ubahlah dirimu sendiri."

Jika engkau ingin orang lain menerimamu, terimalah mereka apa adanya. Jika kau ingin mereka menghormatimu, hormatilah mereka. Jika engkau menginginkan senyum mereka, tersenyumlah kepada mereka. Jika kau menginginkan mereka mencintaimu, cintailah mereka. Jika kau ingin menerima, berusahalah memberi tanpa mengharapkan imbalan Semua akan diberikan oleh Tuhan kepadamu sepuluh kali lipat banyaknya.

Dengan bekal nasihat ayahnya, Michael dapat memahami dan nantinya ia akan menjadi komunikator handal. Anda, tentu saja bisa. Hari ini, mulailah dari diri Anda, karena jika Anda mencoba mengubah orang lain, Anda akan kecewa dan sedih. Gandhi pernah mengatakan, "Jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia ini." Yakin dan percayalah bahwa Anda adalah mukjizat. Tak ada seorang pun yang sama dengan Anda. Tidak di sini atau di mana pun. Terima orang lain, cintailah mereka, memberi, dan fokus pada niat mereka. Saya jamin Anda tidak hanya akan termasuk dalam jajaran komunikator paling ulung di dunia, tapi juga hidup Anda akan dipenuhi kebahagiaan dan berkah. Saya harap saya dapat membantu Anda menemukan jalan terang menuju masa depan yang lebih baik. Mari buat perubahan di dunia ini. Tuhan memberkati Anda.

No comments:

Post a Comment