_Setiap saat mengandung seratus pesan dari Tuhan; Pada setiap sekali seruan "Oh Tuhan," ia menjawab seratus kali, "Aku di sini."_
--Rumu dalam Matsnawi
Pernahkah kita mendengar pesan Tuhan? Mungkin pernah--sekali, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Pesan Tuhan sepertinya tersembunyi nun--tak terjangkau--jauh. Namun, Ia sesungguhnya begitu dekat. Saking dekatnya, jaraknya tidak lebih jauh daripada urat nadi kita sendiri.
Hanya, bagaimana cara kita mendengarkan pesan Tuhan? bagaimana cara kita mempersempit jarak komunikasi dengan-Nya?
Jangan khawatir! Ada banyak cara untuk merasakan keakrabat Tuhan. Datangi orang miskin, sayangi mereka, sebab Allah bersama mereka dan menjadi teman duduk orang miskin. Temui Allah pada sepertiga malam, Allah melayani hamba-Nya satu per satu.
Lalu, dimana letak kesulitan jika Allah yang Maharahman, terus-menerus menaburkan kasih sayang-Nya kepada setiap hamba-Nya? Di mana letak keputusasaan ketika Allah membuka pintu kasih sayang-Nya lebar-lebar? Di mana letak kesengsaraan jika Allah yang maha kaya menghamparkan rezekinya yang begitu tak terbatas buat kita? (Mari bersama-sama gelengkan kepala) Tidak! Hampir dapat dipastikan tidak ada. Tidak ada satupun yang akan kita terima dan kita namai sebagai kesulitan jika stok syukur dan husnuzhan terhadap-Nya senantiasa penuh 100%.
Kesulitan, tantangan, keruwetan, hambatan, semua hanyalah anak tangga untuk tumbuh dewasa dan sukses. Kita bukan anak kecil yang harus selalu diberi manisan, dijauhkan dari bahaya, dimudahkan, dan berada dalam zona nyaman. Sebaliknya, kita menjadi dewasa karena diberikan pilihan. Sedih, senang, sulit, mudah, mengeluh, berlapang dada, semuanya adalah pilihan-pilihan yang kita ambil secara sadar.
Layaknya bilangan biner(nol dan satu), semua hal yang ada di dunia--di sini--berpasang-pasangan. Tidak ada kesulitan tanpa kemudahan, tidak ada kesedihan tanpa kebahagiaan, dan tidak ada kerugian jika tidak ada keuntungan. Bahkan dalam rasa kasih sayang-Nya yang begitu besar, Allah menambahkan "varian" kemudahan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan satu kesulitan yang kita hadapi. Tentu saja, kinci menemukan kekuatan kasih sayang Allah ini, tidak akan begitu mudah didapat jika semua indra yang kita miliki tersumbat.
Buka satu indra lagi! Dengarkan pesan Tuhan melalui hati, tajamkan penglihatan kita, dan lihatlah dengan mata hati, niscaya kita temukan Allah berseru girang, "Hambaku, Aku di sini. Mintalah! Karena Aku teramat malu meninggalkan kedua belah tanganmu yang terbuka--meminta--kepada-Ku, lalu kutinggalkan tanpa sesuatu pun. Hambaku, Aku di sini, jangan bersedih dan putus asa. Hadapi hidup dengan gembira karena Aku tidak mungkin membiarkanmu larut dalam kesulitan. Hambaku-Ku. Aku di sini. Alu di sini..."
[Salman Faridi, _Hidup untuk hidup_, hal 9]
Tuesday, January 27, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment